by

Cerita Muchlis Dj. Tolomundu PUING-PUING WAKTU

-Artikel-117 views

BERSIPONGANG anganku mengais kembali keping-keping artefak dari beberapa peristiwa kala bocah di kota kelahiranku. Telah kusaksikan terjadi dan kudengar Ayah Ibu membicarakannya dengan para tamu. Ketika itu belum dapat kumengerti sebab-musabab terjadinya. Kemudian ujungpangkal dan duduksoal kisahnya sudah tersibaklah oleh waktu. Namun impresi kebocahanku atas serpihan dari kejadian itu hingga selanjut ini usiaku tidak jua kunjung selesai mengusik.

Itulah yang membawaku kembali berkunjung ke kota ini.

1

DARI BANDARA seorang famili mengantarku menyusuri jalan datar berkelok. Mengikuti garis pantai di pesisir timur teluk. Panoramanya dulu memesona. Kini tak membuatku terpukau. Kami menuju sebuah perempatan di pusat kota. Dua ratus meter arah timurlaut istana kesultanan. Lalu lintas sedikit mobil dan sepeda motor bersilang arah di sekitar. Arman Jahar, yang mengantarku, menepikan mobilnya di depan pagar halaman rumah pada pojok tenggara dari perempatan. Bangunan rumah tampak sudah berbeda sama sekali. Halaman luas yang ditumbuhi aneka bunga dan pepohonan, tempatku berkemah dan berkuda, semua telah punah. Namun utuh dalam terawanganku. Terekam jelas bentuk lama rumah itu. Bahkan perabotnya, warna kayunya dan susunannya. Dari semuanya, meja makan lah yang mendominasi kenanganku.

Ya meja makan besar terbuat dari kayu hitam itu. Kolongnya cukup luas, bisa menampung kasur tidur untuk Ibu dan dua bocah. Di sanalah kami mengungsi tidur. Dalam remang, seringkali gelap. Setiap malam. Malam yang berulang-ulang. Malam- malam yang diberondong derap tapak banyak orang. Suara dentang pagar halaman yang dipukul dengan besi dan batang kayu. Dan pekik serombongan lelaki perempuan yang meneriakkan lagu entah apa.

Cercah cahaya sebatang lilin yang tegak di lantai tak kuasa mengenyahkan rasa tercekam itu. Listrik dipadamkan, kata Ibu, agar kami di dalam rumah tidak terlihat oleh gerombolan yang selalu berkeliling mengendus dan bernyanyi lantang. Mereka menyusuri jalan di komplek dengan meneriakan lagu yang selalu sama. Asing dalam pendengaranku. Tidak pernah diajarkan Ibu Sinaga, guru TK kami. Setiap mulai terdengar lagu dari barisan itu, Ibu meraih aku dan adik dalam pelukannya. Sekarang,

saat ini, kurasakan pelukan dekapan Ibu laksana pendar cahaya paling terang pada gulita kala itu. Ketika malam terteror pekik nyanyian tak kukenal dan dentang pagar terhantam besi.

Cukup lama sesudahnya adalah hari-hari tatkala tiada lagi berondongan teriakan lagu dari gerombolan yang berkeliling. Jauh waktu kemudian aku tahu, saat itu adalah hari-hari menjelang ujung tahun 1965.

Pada sekitar waktu itu, kerap pada hari sudah berbungkus malam, Ayah pergi dengan jip hanya berdua dengan supir. Kata Ayah, harus ke hutan jati. Jauh di luar kota. Kami—ibu, aku dan adik—tinggal di rumah dijaga petugas.Namanya, Pak Kus. Mulai menjaga—dan tak pernah pergi—setelah tidak ada lagi rombongan yang berkeliling melantangkan nyanyiannya. Sejak itu ia menempati satu ruangan di luar rumah induk, di sisi garasi. Menyusul hadir dan tinggal di kamar di teras belakang adalah Yusuf. Berasal dari pedalaman, ia murid SMP di dekat rumah. Bersama kawan- kawannya sering berbaris dan berteriak di jalanan mencari-cari rombongan yang menyanyikan lagu tak kukenal.

Pernah terdengar olehku, Ayah menjelaskan pada Ibu, bersama banyak yang lain ia mendapat tugas harus ke hutan jati. “Hadir untuk lihat orang yang ditangkap,” kata Ayah. “Banyak orang sudah diringkus.”

Mengingat itu, aku tercenung. Masygul. Terpaku menepi di sisi pagar halaman rumah. Rumah masa silam di pojok tenggara perempatan. Aku diam termangu.

2

TATAPANKU kemudian beralih ke sebentang jalan lebar di depan rumah. Di jalan ini pada satu siang melintas beriringan banyak truk. Hari itu, tak berapa lama setelah Pak Kus mulai menjaga rumah kami. Dalam iringan truk terbuka yang melintas terlihat orang-orang dan berbagai barang menumpuk. Mereka, orang-orang yang sering kujumpai di toko tempatnya berdagang, melayani pembeli. Kukenal raut mereka. Dua kali dalam seminggu aku dan adik diajak Ayah jalan-jalan ke kawasan pertokoan di sebelah barat istana kesultanan. Mampir belanja di toko pakaian dan toko kue. Atau makan cap cay enak dan mie kuah sedap di restoran. Juga ke pembuat sepatu yang selalu bercelana pendek. Sepatu dan sandalku dibuat oleh tangannya. Aku menyapa mereka, ‘Om Sepatu’, ‘Om Restoran’, atau ‘Om Toko Baju’—sesuai jenis usahanya.

Siang itu, om-om bersama keluarganya, istri dan anak-anaknya—sebagian temanku di TK. Mereka duduk di atas tumpukan barang dalam truk yang bergerak perlahan. Sebagian berdiri menempel di dinding tepi bak truk. Ada Om yang cuma mengenakan singlet. Tante yang berdaster. Tak ada yang melambai. Hanya menatap.

Mereka berjejal dengan barang-barang. Kain warna warni serta kelambu putih berkibar melambai diterpa angin keluar dari tumpukannya.

Orang-orang dari rumah di sepanjang tepi jalan berhamburan keluar mendengar deru iring-iringanan truk yg melintas. Mereka meruyak, hiruk pikuk. Serupa tatkala menonton pawai perayaan kemerdekaan.

Karnaval. Aku merengek pada Ibu, mengapa aku tak ikut bersama temen- temenku seTK di atas truk? Mengapa ayah ibu mereka, Om dan Tante, turut dalam karnaval? Mana hiasan kertas warna? Mana benderanya?

Setiap peringatan hari kemerdekaan, selalu melewati depan rumah: karnaval anak, gerak jalan, drum band, juga parade segala jenis kendaraan hias dari truk sampai dokar. Semuanya meriah dalam balutan aneka warna kertas maupun ragam busana. Dan pasti banyak bendera kertas.

“Bukan, Nak. Ini bukan karnaval,” ujar Ibu membungkuk ke arahku. Lalu pandangannya kembali ke arah iring-iringan truk.

Tetapi, deru mesin banyak kendaraan itu. Hiruk pikuk orang di tepi jalan. Suasana meriah itu. Aku sedang menonton karnaval. Warna-warni kain diterpa angin. Dan kelambu yang melambai itu.

Aku sudah menjadi murid klas 2 SD di utara istana kesultanan ketika Pak Ali Jahja, kepala sekolah, mengantar masuk ke klas beberapa murid baru. Dan semuanya kukenal. Ada Ang, Kae, Ing, Fung, Cucing, Yong, Cae, dan Sing. Mereka sebelumnya adalah teman-temanku di TK. Pada saat istirahat aku melihat ternyata ada adik Ang di klas 1. Juga dua kakak perempuan Fung jadi murid baru di klas 3.

Teman-temanku kembali. Namun sebagian lainnya teman satu TK tak lagi pernah bertemu denganku. Entah ke mana sejak pergi dalam iring-iringan truk berkelambu melambai itu. Tak pernah kutanyakan itu pada para sahabatku. Tidak ada pula yang membicarakannya.

Hari ke hari kami belajar di klas. Bermain bola. Dan membolos, pergi menonton pacuan kuda. Aku kadang sebangku dengan Ang. Tubuhnya tinggi, kupikir hampir satu setengah kali badanku. Dia sering membantu untuk pelajaran berhitung. Kerap pula aku sebangku dengan Fung. Kami sama bertubuh mungil. Seringkali dia mengajari menggambar. “Tanganmu jangan kaku. Lenturkan jarimu,” katanya agak dongkol ketika menggurui aku menggambar lengkung pelepah dan detail daun kelapa. Dia terampil menggambar. Bola mata dan manyun bibirnya otomatis bergerak searah gerakan pensil di tangannya. Tak pernah kualami keadaan seperti itu apapun yang coba kugambar.

Kadang Ang dan Fung minta tolong untuk jawaban dalam pelajaran bahasa, sejarah dan pengetahuan umum. Menjelang ulangan kami belajar bersama di rumah Jamil. Rumahnya gedung yang luas. Ayahnya pedagang kain. Di rumah itu sering terdengar musik kasidah dari piringanhitam. Rumah tokonya bersebelahan dengan toko

ayah Ang. Di sekolah, Jamil sebangku dengan Cucing. Syaiful dengan Ing. Dan Rais kadang dengan Yong. Rais lah yang kerapkali membentuk tim 2 x 6 orang untuk laga sepakbola di halaman depan deretan klas. Waktu istirahat, kami bertanding. Mayong, Kae, Rudin dan Rais adalah jagoan pencetak gol. Dua kakak perempuan Fung dan kakak perempuan Rais selalu menjadi supporter adiknya. Fung dan dua kakaknya— kurasa mereka berdua adalah perempuan paling cantik di sekolah kami—adalah anak Om Restoran. Ang kerap menggoda salah seorang kakak Fung. Jamil kepincut pada kakak Rais.

Serapat itu pertemanan kami, tak terdengar ada yang saling membicarakan karnaval truk berkibaran kelambu. Tidak juga ada yang bertanya, misalnya di mana anak-anak Om Sepatu dan anak-anak Om Baju kemudian bersekolah. Mereka teman kami satu TK, sebagian yang tak pernah bertemu lagi denganku setelah karnaval truk berkibaran kelambu.

Dari sisi pagar tempatku berdiri, kelambu tampak masih di pelupuk mata, melambai-lambai. Ranjang di kamar di manakah mereka dulu lalu merangkai kembali kelambu itu?

3

MASIH BERDIRI di sisi pagar, sesaat aku terkesiap. Seketika ingatanku mengapungkan kembali sepenggal cerita yang sempat kudengar saat klas 2 SD. Tentang komandan yang berkuasa memerintahkan penangkapan orang-orang, termasuk yang dibawa ke hutan jati. Belakangan, setelah pindah ke ibukota provinsi, justru komandan ini yang ikut ditangkap. Dipecat. Ditahan. Tidak lama sebelumnya, adik ipar komandan telah juga ditahan di Jawa.

Istri komandan dan adiknya adalah kerabat Ibuku. Anak-anak komandan tentu familiku. Kudengar Ibu dan Ayah bicara, sudah terima kabar bahwa anak-anak serta istri komandan dalam keadaan aman. Dan mereka dipindahkan dari rumah komandan ke rumah yang lebih kecil.

Sedikit yang kudengar mengenai adik istri komandan, dia ikut bersama kakaknya sejak SMP sampai SMA. Berpindah-pindah kota karena pindah tugas suami kakaknya. Selulus SMA, memisah dari kakaknya, ia ke Jawa untuk belajar melukis.

4

AKU MASIH di sisi pagar rumah di pojok tenggara perempatan. Kulihat Arman agak menjauh, duduk di atas dinding riol. Kakinya menjuntai di saluran tak berair itu.

“Arman,” kataku mencelahi kebisuan. “Dulu, di halaman rumah kami ini,” aku menunjuk pekarangan di belakang punggungnya, “terpancang empat, mungkin lima, papan kampanye satu partai.”

“Partai apa?” tanya Arman menatapku.

“Tegak berdiri cuma dua hari,” sahutku tak hirau pertanyaannya. “Tiang dan papan kampanye partai itu dicabut, diangkat dari tanahpancangnya. Kemudian dilempar ke atas truk.”

Kelumit ingatanku tentang diringkusnya papan kampanye ini sungguh masih segar belaka. Saat itu aku sudah klas 5 SD. Setelah truk berlalu membawa papan kampanye, kusaksikan beberapa tetangga dan banyak orang tak kukenal datang bergegas. Lantas gerutuan marah bersahutan. Entah kepada siapa dituju. Makian, umpatan dan cacian berkelebatan saling tubruk pada suasana kerumunan.

Tidak berselang lama, muncul seorang yang semua dalam kerumunan mengenalnya. Ia Pak Abu Bedon, pedagang hasil bumi dan ternak. Ayah Rais, temanku seklas. Terkaya dari enam orang kaya di kabupaten ini—lima lainnya pun adalah adik kandung dan para sepupunya. Dari mobilnya, menurutku itu mobil terbaik di kota kami—bahkan lebih baik dari mobil bupati, ia turun dengan mata yg tampak merah. Air mukanya muram sangat. Lilitan sarungnya pun tidak kencang dan tak beraturan hingga ujung bawah lingkar sarungnya tinggi dan rendah. Tampak ia datang dengan terburu-buru.

“Datupa rawi lako doho re… La nga’i danta mena ba ina na.” Dari bibirnya yang dower terlontar umpatan murka sekasar yang bisa memuaskannya.

Kepada siapa orang-orang tua itu melontarkan serapahnya? Yang bisa kuduga ialah kepada para peringkus papan kampanye. Tetapi aku sungguh tak bisa menebak siapa para peringkus. Dan untuk apa mereka melenyapkan papan kampanye. Aku juga tidak tahu kelanjutan setelah amarah yang memuncak itu. Kerumunan itu beranjak bubar oleh gema azan maghrib.

Di pojok baratdaya dari perempatan adalah masjid raya kota ini.Menempati satu blok seluas dua kali lapangan bola. Ketika azan senja itu menggema, kerumunan orang dengan amarah tadi beriringan menuju masjid.

Di masjid itukah amarah melanjut? Atau mereda?

5

PADA SUATU Jumat, satu atau mungkin dua pekan setelah peristiwa diberangusnya papan kampanye. Seperti biasa, di masjid ramai orang yang akan beribadah Jumat.. Meluber sampai ke koridor timur masjid raya.

Khutbah sedang berjalan tatkala insiden itu mendadak muncul. Aku terpana. Beberapa orang beseragam lengkap dengan sepatunya merangsek masuk dari koridor timur. Melangkahi dengan kasar jamaah yang sedang bersila menyimak khutbah. Aku sempat bereaksi ingin tahu. Kutegakan tubuhku dengan menumpukan dua dengkul di lantai bersajadah. Secepat itu pula reaksi tangan Ayah menyentak lenganku. Menggamitku agar bersila kembali.

Sampai di depan mimbar, para penyerbu dadakan mengurung khatib yg seketika itu lalu menghentikan khutbah. Berlangsung ringkas dan cepat, khatib disorong keluar melalui pintu darurat sempit di belakang mimbar. Entah ke mana mereka membawa khatib. Empat orang berseragam berlompatan menyusul keluar melalui beberapa jendela pada dinding barat masjid, di depan saf pertama.

Ibadah Jumat terganggu hanya sekejap. Sekejap saja. Begitu khatib ditarik turun dari mimbar, muazim langsung sigap berdiri dan melantunkan bacaan standar penanda jeda antara selesainya inti khotbah dengan penutup. Sesudahnya muazim itu juga yang sekaligus membacakan penutup khutbah.

Seakan tak terjadi gangguan apapun, ibadah Jumat hari itu berlanjut dengan azan. Kemudian Om Imam memimpin salat Jumat dua raka’at.

Keriuhan terjadi usai salat. Orang-orang tidak langsung pulang. Mereka bergerombol menjadi banyak kelompok di dalam masjid. Ada yang berdiri, lebih banyak lagi yang belum beranjak. Mereka bersila, juga berselonjor di lantai.

Suara kata-kata yang berlompatan dari banyak kumpulan orang itu menggema di dalam masjid. Menimbulkan dengung di seantero ruang yang ditangkupi kubah utama, persis di bagian tengah atap masjid.

Itu atap bergenting tebal. Pernah kudaki bersama tetanggaku si pendiam Ainul dan Zulkifli yang gemar bicara. Beberapa kali selepas zuhur kami mendakinya sampai pelataran sempit persis di kaki kubah. Hanya untuk pamer cerita pada teman-teman di sekolah.

“Sudah kulihat semua atap rumah sekeliling kota ini sampai ujung teluk di kaki langit,” kata Zul sembari merangkak mundur menuruni atap.

Ainul menyeringai. “Selamat dulu sampai teras lantai dua, baru bicara selangit,” ujarnya dengan nafas ngos-ngosan.

Di sisi pagar rumah di pojok tenggara perempatan, terasa bibirku membuka dan agak tertarik melebar. Mengingat itu, aku tersenyum. Baru terpikir olehku, dengung menggema usai Jumat kemelut 50 tahun silam itu mungkin merayap jauh lebih tinggi dibanding tiga pendaki genting.

Kubayangkan, dengung itu berkelindan dalam perut kubah. Lalu menyeruak keluar melalui celah kaki-kaki penyangga mahkota kubah. Di pucuk ketinggian, dengung itu merayapi mahkota, yaitu bintang dan bulan sabit—mengantar semua doa dan kata-kata meraih langit.

6

TIGA ATAU EMPAT HARI sesudah Jumat kemelut sekejap itu. Kakek datang.

Biasa. Mampir dua kali seminggu. Tengok cucu. Ibuku anak tunggalnya.

Kakek seorang yang tertib dan necis. Pakaiannya tersetrika licin. Ujung atas pantalonnya melingkar di atas pusar, diikat ban pinggang. Ujung bawahnya jatuh tepat seinci di atas sepatu yang tersemir mengkilap.Seringkali duduk dengan kaki bersilang. Mengobrol dengan siapapun, dengan Pangeran—adik kandung Sultan—pun, tetap bersilang kaki. Ujung sepatu Kakek kadang nyaris menyentuh ujung sepatu Pangeran yang sama bersilang kaki. Anak perempuan mereka bersahabat dekat. Dua dari sedikit perempuan masa itu yang dikirim sekolah ke Jawa.

Kakek pembaca yang bukan saja rakus. Pada buku-bukunya bisa ditemukan garis tinta merah, biru, hijau, atau hitam di bawah teks yang dianggapnya menarik. Di ruang kosong teks, di tepi kanan atau kiri pada halaman dengan teks yang menarik perhatiannya, Kakek menulis—kadang dalam bahasa Belanda—catatan atau pertanyaan dengan tinta merah.

Kepada tamu, siapapun, yang mampir di rumahnya, Kakek selalu membacakan kutipan teks buku yang telah digarisbawahi. Sekaligus catatan atau pertanyaannya. Tidak perduli tamunya suka atau tak suka. Aku kerap tertawa, geli melihatnya seperti berdeklamasi tatkala membacakan teks untuk tamunya.

Di rumahnya banyak buku. Beberapa rak. Di atas rak yg paling lebar diletakkan bingkai foto—persis foto di dinding rumahku—pria berkacamata, kemeja putih lengan pendek dan berkopiah. “Perdana Menteri yang menyatukan Indonesia ketika hampir bubar,” ujar Kakek menatap foto.

Siang itu aku sedang menemani Kakek di meja makan hitam besar. Membaca koran dan majalah. Aku cuma membolak-balik, membaca judul-judul, melihat foto-foto pada setumpuk publikasi langganan Ayah. Harian Abadi dari Jakarta; Petugas Pos

datang membawanya sekali seminggu, sekaligus 6 edisi; Pesawat terbang jenis DC-3 bekas perang Korea yang diubah jadi pesawat penumpang terjadwal sekali seminggu ke kota ini. Ada juga Majalah Panjimas, Jakarta; Buletin Adil, Solo; Majalah Berita Sketmasa, Surabaya; Ada yg seronok, majalah hiburan Varia.

Ketika itulah masuk Yusuf dari teras belakang memapah Om Tasrif sampai di ruang tengah. Dibaringkan di sofà. Tampak rautnya menahan kesakitan. Siang itu, tajam sorot matanya tampak tak berkilat.

Om Tasrif berkulit gelap. Rahangnya menonjol. Bekerja sebagai pegawai negeri pada satu kantor pemerintah. Ia berasal dari kecamatan dengan tradisi berani untuk tidak takluk. Di sana lelaki bertarung bebas satu lawan satu sebagai perayaan tiap selesai panen. Leluhurnya menolak patuh pada perintah sultan karena perintah sultan harus membayar bea kepada Hindia Belanda. Pembangkangan itu akhirnya mereka tempuh dengan perang. Melawan bedil dan sangkur, tentu kalah dan banyak yang gugur. Anak cucunya bangga, setiap tahun merayakan sikap dan tindakan pendahulunya. Dari komunitas itulah ia berasal. Tak aneh bila cap pemberani lekat padanya.

Dia keponakan Kakek. Sering datang mengobrol dengan Ayah Ibu. Kepadaku dia selalu tersenyum. Kerap membawakan untukku buah srikaya gunung, kadang mangga atau tebu.

Tetapi sekali ini datang tanpa buah di tangannya. Tak tampak senyum. Dia muncul dengan wajah lebam, bonyok, luka. Suaranya terdengar merintih. Tangannya menangkup di bagian perut. Langkahnya tertatih. Tidak lagi tegap.

Dari meja makan dan setumpuk majalah aku beranjak memberitahu Ayah. Kakek tak bereaksi, tetap membaca. Ayah bergegas keluar kamar hanya dengan sarung dan kaos oblong, mendelik ke arah Om Tasrif.

“Tiga hari saya disekap di markas. Begini jadinya,” keluh om Tasrif. Spontan Kakek berdiri.

“Verdomme..Stop sedu merintih itu,” Kakek membentak.

“Komandan yang dulu menangkap musuh, ternyata segolongan dengan yang ditangkapnya. Komandan yang sekarang, saya kira segolongan kita, ternyata menahan dan kejam menyiksa,” jawab Om Tasrif meradang.

“Hei Tasrif, saya disiksa dan dipenjara oleh dua penguasa berbeda sebelum zaman ini,” kata Kakek. Kepal tangannya berkacak di pinggang. “Ketahuilah, Nak. Orang-orang berkuasa datang dan pergi. Seperti musim, ganti berganti. Tetapi yang mereka genggam adalah zat kekuasaan yang sama.”

Kukira Kakek akan diam mendengar Om Tasrif masih meratap. Ternyata tetap bicara. “Orang berkuasa memihak kepentingannya sendiri. Selalu demikian. Di luar itu adalah korban. Bergiliran. Pada saatnya mereka juga adalah korban. Begitulah selalu yang terjadi.”

Tak hirau percakapan itu, Ayah menuju meja kecil di sudut ruang tengah. Diputarnya engkol telepon hitam, lalu berbicara kepada operator sentral telepon minta disambungkan ke telepon rumah dokter Hasan.

Belum lama menikahi sepupu ibuku. Ia paman dari temanku Sing. Dokter satu- satunya di kota ini, bahkan di sekabupaten ini. Baru dua tahun lulus dari Universitas Airlangga sudah langsung diangkat sebagai kepala rumah sakit kabupaten. Rumah dinasnya hanya berjarak empat rumah di sebelah barat masjid raya. Sedangkan rumah kami, diselingi seruas jalan, berada di timur masjid.

Dokter datang dengan tas hitam. Berkacamata tebal. Dan senyum yang tak pernah tanggal dari pipinya yang tembem. Laksana melekat pada wajahnya. Menatap parasnya serasa seisi dunia ini damai belaka. Dokter tidak bertanya yang terjadi pada pasiennya. Hanya menyentuh perlahan dan memeriksa menyeluruh pada permukaan tubuh.

Dengan stateskop tergantung di leher, dan airmuka yang senantiasa memberi senyum itu, ia laksana dewa penyelamat.

7

TUJUH BULAN setelah pemilu 1971 kami sekeluarga pindah ke kota provinsi. Ikut Ayah pindah tugas. Bertemulah aku dengan anak-anak bekas komandan yang ditahan itu. Kami sekolah di tempat yang sama. SMP dan SMA. Ibu mereka kupanggil Uwak. Itu aturan dari Ibuku. “Uwakmu enam tahun lebih tua dari Ibu.”

Aku sering mampir main di rumah kecil Uwak lantaran Anom, teman sebangku di SMP, kerap memintaku untuk menemaninya. Dia menaksir Lala, anak Uwak yang seumur aku. Lincah bergaul. Berlaku dan bertutur manis pada semua orang. Belia ini pandai pula menulis surat. Banyak teman terpesona. Mereka menganggapnya serupa Yessy Gusman, bintang film remaja kondang kala itu. Menurutku, Yessy lah yang mirip Lala karena anak perempuan Uwak lah yang lebih dulu lahir. Berbeda dengan kakak maupun adiknya, Lala tak tampak inferior di tengah pergaulan murid sekolah favorit.

Uwak bekerja apapun yang mungkin demi hidup dan sekolah enam anaknya. Acapkali kutemui sedang menyulam, menjahit atau membuat kue. Juga memasak pesanan tetangga dan kenalan. Kenduri di rumah keluarga jarang tanpa sentuhan

tangannya di dapur.”Yang penting anak-anak sehat, Uwak cukupkan kebutuhannya, dan bisa sekolah,” ujarnya.

Aku cuma mengangguk.

“Kamu tahu, nak…Uwak ibarat setir mobil tanpa kaca spion. Mobil khusus, telah Uwak copot persneling mundurnya. Lantas untuk apa kaca spion? Jangankan penumpangnya, sedangkan Uwak yang nyetir pun sudah tak perlu lihat samping dan belakang lagi.”

Kembali aku mengangguk. Dan mengucap, “Iya Uwak.”

Kuperhatikan tubuh Uwak makin lama kian ringkih. Tampak bagiku kepedihan menderanya. Betapapun ia terlihat berusaha selalu senyum. Sembari menyulam kadang turut mengobrol dan tertawa riang bersama teman-teman anaknya. Baju hangat tebal di badannya, kulihat seperti kukuhnya ketabahan membungkus lara dan perih.

Suami berpangkat overste mendadak sontak tidak lagi bisa bersama oleh sebab yang tak pernah Uwak tahu sebelumnya. Hidup berkecukupan sebagai anak istri komandan seketika terenggut, yang tak pernah Uwak duga akan mengalaminya. Anak bungsu terombang-ambing antara cap tak pernah tumbuh dewasa dengan stigma berkelainan mental, yang tidur berpindah-pindah dari satu rumah kerabat ke kerabat lainnya.

Dengan segala daya upaya Uwak dapat menyelesaikan lima anaknya sampai tamat sekolah menengah atas. Setiap ada anaknya lulus, segera ia berupaya mendapatkan pekerjaan. Hanya seorang yang dapat menjadi pegawai negeri. Itupun dengan akrobat memohon dengan air mata kepada istri jenderal yang menjabat gubernur—bekas atasan suami Uwak.

Adalah keajaiban Uwak dapat bertahan menghidupi sekeluarga. “Martabat dan kehormatan, kalau itu masih penting, kita sendiri yang menentukannya, yaitu oleh yang kita lakukan dalam menjalani hidup ke depan. Kalau ada cibir dan cemooh, biarkan saja. Itu pasti terhadap masa lalu dan keadaan kita saat ini. Kalian anak-anakku, ingat ya, bangunan masa lalu kita sudah rubuh. Telah melakukan apa Papamu dan Om kalian, dua laki-laki itu, Mama pun tak tahu. Apalagi kalian. Jangan pernah menoleh ke belakang. Mulai sekarang Mama yang pimpin ini keluarga. Kita susun bata demi bata bangunan masa depan kita. Apapun yg kita capai, yang lebih penting adalah kita sudah berusaha sebaik-baiknya usaha. Kelak waktu yang membuktikan.” Begitulah Lala menulis kepadaku dalam salah satu suratnya mengisahkan tentang sikap dan pendirian Mamanya—Uwakku.

Aku merasa, Uwak adalah pejuang. Pahlawan berani hidup. Dengan keteguhan luar biasa, ia bertahan atas beban yang mengepungnya. Juga menghindar dan melawan kepedihan yang hari ke hari mengiris dan mencabiknya. Bukan saja suami

dan adik lelaki telah diringkus darinya. Tetapi nyaris kehidupan di tubir jurang itu menggilas dan mengkremusnya.

Adik Uwak, kukenal sebagai Om Ima Hamanda. Begitu ia meminta namanya harus dieja. Bukan cuma Ima Haman. Itu kata seorang ponakannya, anak Uwak.

Haman, nama ayahnya. Tak jelas sebab ia menambah dua huruf pada nama ayahnya, yang ia terakan sebagai nama belakang dirinya. Mungkin—aku sekadar menduga, lantaran keyakinan ayahnya yang seringkali dipertanyakan dan didebat oleh Om Ima.

Pak Haman seorang guru sekolah menengah negeri. Ia menikah dengan sepupu Kakek. Sama dengan Kakek, Pak Guru Haman adalah pengagum seorang berkemeja putih lengan pendek, berkacamata dan berkopiah, yang pernah disebut Kakek sebagai “Perdana Menteri yang menyatukan Indonesia ketika hampir bubar” itu.

Belakangan aku tahu Om Ima adalah seorang pelukis alumnus ASRI Yogyakarta, satu dari lima orang pada awal 1960an mendirikan sanggar seni lukis berpengaruh—bahkan hingga saat ini. Ia ditahan, kemudian dimulailah, yang belakangan setelah bebas disebutnya, “hewan dari penjara ke penjara—tempat kemanusiaan telah hendak coba dipunahkan.”

Dibebaskan 1977 dari tempat tahanan terakhir, jauh di sebuah pulau kecil, terbawa pulang bersamanya: TBC kronis. Jalan pun sudah tak mampu. Ia ditandu.

Berselang setahun atau hampir dua tahun sesudah Om Ima, bebas pula kakak iparnya, sang bekas komandan eksekusi di hutan jati. Pada sekitar saat pembebasan itu, Lala lulus SMA dan berkeras melanjutkan belajar ke universitas di Jawa. Bersikukuh pada kehendaknya, sekukuh Uwak membesarkannya. Dengan bantuan famili, akhirnya Uwak dapat biaya untuk berangkatkan Lala.

Om Ima sudah tampak cukup sehat ketika kebetulan bertemu saat aku mengunjungi Uwak dalam kesempatan mudik liburan kuliah. Tak banyak bicara, Om Ima cuma bergumam, “Di penjara, dari penjara ke penjara, Om diperlakukan jadi hewan. Kemanusiaan dinistakan.” Kemudian menyingkir, berjalan tertatih menuju kamar tidur. Ia tak menanti tanggapan atas ucapannya.

Kabar yang menggembirakan Uwak dan suami—yang terbaring sakit—serta anak-anaknya, akhirnya datang. Lala diwisuda sebagai sarjana.

“Yang ini melebihi cantik ibunya waktu muda,” dengan airmata tertahan begitulah Ibuku memuji Lala ketika datang sowan setelah wisuda sarjana.

Pada awal 1990an di teras Wisma Seni TIM, Cikini, Jakarta, aku berpapasan dengan Om Ima.

“Ehhh, Om Ima… Sehat yaa,” seruku spontan—tak menduga bertemu dengannya pada sebuah pagi berkilau cerlang mentari.

Kami ternyata sama menginap di wisma yang bertarif 50 ribu perak per orang per malam itu.

“Iya… Beginilah. Lumayan,” jawabnya. Senyumnya tampak hanya segaris.

Kami berpelukan. Terasa olehku tipis tubuhnya. Dan bergetar. Kupikir tinggal semangat yang membuatnya kuat bertahan. Kulihat itu pada sorot matanya.

“Kembali melukis, Om?”

“Itulah enerji hidup ini. Tapi begini ya… Sudah belasan tahun di luar penjara. Memang bebas… Tapi terasa masih… masih digantung … terutama lantaran … apa itu

…kehormatan yang belum pulih,” ujarnya patah-patah.

Aku jadi merasa canggung. Kehilangan kata-kata untuk merespon Om Ima.

“Ayo Om, kita pulang kampung,” ujarku sekenanya. “Mungkin di kampung bisa ..”

“Om memang ingin pulang,” sahutnya menyambar kalimatku yang masih diawang-awang. “Tapi…Semua membenci. Tak seorang pun keluarga dan kerabat di sana yang mau terima Om pulang.”

“Eh Om, lahir di sana ‘kan tidak mesti mati dan bermakam di sana,” ujarku. Dia terkekeh. Terdengar getir.

8

AKU MENGINGAT momen di TIM Jakarta itu dari tepi pagar halaman rumah di pojok tenggara perempatan. Rumah masa lampau. Kemudian kuajak Arman berkendara keliling kota ini, ke area seputaran tempat kelahiran Uwak dan Om Ima. Sekaligus mampir makan enak di warung peninggalan Om Madura, ayah temanku Gatot.

Masakan kambing dengan resep Om Madura yang terkenal lezat ini lebih mirip tengkleng ketimbang soto—sebagaimana dikenal sejak mula kisah tatkala dijual keliling dengan gerobak dorong. Kuahnya berbumbu aneka rempah. Dagingnya disajikan lengkap dengan tulang. Tidak pakai santan, maka bukan soto apalagi gulai. Tidak pula bening, maka bukan sop.

Sebelum aku lahir puluhan keluarga Madura sudah bercampur baur saling silang kawin mawin dengan warga setempat. Temanku Gatot lahir sebagai generasi kedua, mungkin ketiga, peranakan Madura di kota ini. Saat kukunjungi warung peninggalan ayahnya ternyata sudah di tangan generasi anak dan ponakan dari Gatot. Bahkan siap- siap dioper ke generasi cucunya.

Lokasi warung ini tak pernah pindah, masih di tempat yang sama sejak aku TK 55 tahun silam. Di dalam kawasan kampung tempat Om Ima lahir. Sembari kunikmati daging dan kuah berbumbu rempah itu, Gatot bermata bulat besar itu masih tertawa- tawa menyerap ceritaku. Bahwa pernah kejadian dalam hidupku, tak mampu menemukan masakan seperti yang sedang kukunyah ini setelah 3 hari 2 malam mengubek-ubek dari Bangkalan, Pemekasan sampai Sumenep. Bahkan dalam rute sebaliknya pun masih kucari dengan penasaran.

“Namanya memang Soto Madura. Tapi ndak mungkin ada di Madura … Ha ha ha

… Ndak ada….. Ini menu racikan orang Madura di sini .. Kakek Nenek kami Madura di sini… ini formula yang sudah disesuaikan dengan selera lidah orang sini,” Gatot berkisah tentang moyangnya, perantau awal yang menetap atas ijin sultan.

Tampaknya makanan pun, di mana dimasak di situ selera dijunjung.

Menikmati formula bumbu moyangnya Gatot, aku ingat cerita Ibuku tentang perkembangan Lala tahun-tahun berikutnya selepas wisuda. Bekerja swasta. Menikah. Tinggal di Jakarta. Membangun usaha dagang scrap alias besi tua dengan suaminya. Beberapa tahun sudah bisa membeli tiga rumah besar. Berlimpah kekayaan materi. Dan diberkahi empat anak.

Suatu hari sesudah 2010 aku mencoba menemui Lala. Tak dapat kujangkau. “Gak pernah bisa sama kesempatan kita yang lowong acara,” kata Lala

mendahului bicara ketika kutelepon. “Banyak acara bisnis dan banyak pengajian,” lanjutnya.

“Orang kaya sibuk Ya sudah, kita ngomong di telepon saja,” sahutku.

Kudengar Lala tertawa mengikik.

“Aku cuma ingin Lala bantu Om Ima “

“Ah, Om Ima udah beda, dia pindah jadi .ituu….” Lala memotong cepat kalimatku yang belum selesai.

“Lala ngomong apaan sich? Apanya yang beda? Pindah dari jadi apa ke jadi apaa?”

“Pokoknya beda … Dia beda dengan kita sekeluarga.”

“Dari kita belum lahir sampe kita tua, Om Ima juga udah beda dengan kita. Tapi kan tetap om kita.”

“iiihhh … Bukan itu. Dia udah menganut agama tapi beda dengan kita.”

“Ohh itu….. Soal keyakinan… Itu wilayah bebas merdeka tiap-tiap orang untuk berbeda pilihan yang diyakininya. Toh kita semua sama-sama mengabdi pada Zat Tuhan yang Satu, yang sama. Aku bukan mau bahas itu… Tapi mau minta Lala bantu Om Ima Saling bantu saling tolong, jangan pilih-pilih berdasar keyakinan.”

“Udah sering kubantu. Kirim-kirim semampuku.”

“Yeee …Bukan uang. Menghina dia memberinya uang belas kasihan. Dia gak butuh uangmu. Jadi OKB jangan sombong, Lala.”

“Apaan sich? Terus aku mesti bantu apaa?”

“Lala lakukan sesuatu, yakinkan, bujuk, keluarga besar di kampung agar mau terima Om Ima pulang dan menjalani sisa umurnya di sana. Sudah lebih 70 tahun, sakit-sakitan pula. Itu angannya, kerinduannya. Mungkin dia mau menunggu saat pergi dengan tenang nyaman di tengah keluarga di kampung.”

“Waduh, itu beraat. Berat. Justru enggak bisa tenang. Bisa dikucil dan dikata- dikatain di sana. Semua sudah bilang menolak.”

“Lala sering menyumbang keluarga di kampung. Mereka pasti berubah kalau Lala yang minta,” aku agak mendesak.

“Gak ada celah. Aku gak bisa. Gak mampu bantu alirkan kerinduan yang ini. Angkat tangan. Dan mohon maaf. Kita hormati pilihan keyakinan Om Ima. Harusnya kita hormati juga sikap berbeda yang diambil keluarga di kampung.”

“Tega banget tuh orang-orang, menolak kehendak seseorang, keluarga pula, menetap kembali di kampung tempat kelahirannya, untuk mencoba nyaman pada sisa umurnya,” sungutku mulai kesal.

“Buat apa juga pusing dengan tempat hidup dan mati. Sendiri dan tersisih tak bisa dijawab dengan melarikan diri ke dalam tempurung. Om Ima mestinya terus aktif saja melukis lagi. Siapa tahu ada kolektor gila kelak menggilai karyanya. Tuh temannya sesanggar, yang melukis celeng adalah tiran, ‘kan sama dulu juga dari penjara ke penjara. Sekarang jadi hebat. Dihormati orang. Lukisannya mahal. Kehormatan harus diperjuangkan. Aku belajar dari Mama. Mestinya dia kuat seperti Mama. Om Ima terlalu banyak lihat kaca spion sich. Mandeg daya kreasinya karena selalu meratapi masa lalu……”

“Hei Lala, cerewet. Stop ceramah. Om Ima ‘kan tetap melukis. Ada kolektor yang tampung lukisannya. Bukan perihal itu aku meneleponmu. Intinya, mau apa tidak bantu Om Ima diterima pulang tinggal di kampung? Dia mau kerja melukis di kampung.”

“Gak bisa. Berat. Pokoknya Om Ima jangan cengeng deh.” Kemudian ‘jeb’—Lala menutup telepon.

Buntu. Mentok sudah. Nasib Om Ima. Sendiri. Dan tersisih.

Setelah perjumpaan di TIM itu, dan percakapan telepon dengan Lala, lama tidak terdengar kabar berkenaan dengan Om Ima, Uwak maupun tentang suami Uwak. Sampai seorang teman menelepon. Temanku SMP dan SMA, tetangga beberapa rumah dari rumah Uwak. Dan ia seorang dokter. Sang dokter berkisah mengenai Lala yang membeli rumah besar milik tetangga Uwak. Lalu tembok pemisah dirubuhkan. Lantas rumah kecil Uwak dan rumah besar baru dibeli itu sama-sama direnovasi dan digabung jadi satu menjadi rumah dengan banyak ruang yang jembar. Halamannya pun jadi lebih lapang.

“Memangnya kenapa, Pak Dokter? Bagus dong Si Lala. Mencoba meraih kembali masa kecil riang berkecukupan yang dulu seketika terenggut. Inisiatif anak berusaha bikin suasana hidup nyaman agar Mama Papanya jadi sehat dan berbahagia,” ujarku merespon cerita sang dokter.

“Iya, bagus. Orangtua Lala kelihatan memang happy sekarang. Tadinya aku mengincer rumah itu. Eh keduluan Lala,” sahut dokter.

“Tuan ini dokter atau pedagang jual beli properti?” Kudengar dia tertawa berderai sambil memaki.

“Pak dokter mestinya sesekali bantu periksa kesehatan beliau berdua. Kan sudah pada uzur tuh,” kataku.

Berkeliling seputaran kota ini telah mengapungkan hampir semua halaman- waktuku kala bocah dan belia. Perkisahan ini sekadar sepuing dua-puing yang dapat kuceritakan. Ada sepercik luka dan perih. Mungkin setangkup kegetiran. Ada secercah elan dan harapan. Barangkali setangkup optimisme. Semua itu—lazimnya kehidupan— adalah latar yang melengkapi kesementaraan.

9

BEBERAPA TAHUN setelah nyaman berbahagia—sering dalam sakit—di rumah yang jembar itu, sang bekas komandan, suami Uwak, wafat.

“Semua keluarga tabah menerima,” kata Ibu mengabariku melalui telepon.

Ihwal duka dan belasungkawa lah yang kian sering saling dikabari di antara teman-teman seiring makin tua usia kami. Daniel, temanku membolos, memberi kabar bahwa Jamil tewas dalam kecelakaan sepeda motor. Joewel, saudara kembar Daniel, meninggal menyusul Johanes kakak mereka. Zulkifli, yang kemudian menjadi arsitek spesialis masjid, mengabari adiknya wafat.

Tujuh tahun setelah suaminya berpulang, lalu Uwak menyusul mangkat dengan tenang di tengah semua anak dan mantu serta para cucu yang menungguinya di rumah sakit.

Ang juga mengirim pesan bahwa Fung sekeluarga sedang berduka. Dalam ingatanku, sekeluarga Fung pindah ke Jawa setelah semua tiga kakak-adik ini lulus SD. Belum genap 10 tahun menetap di Jawa santer kudengar mereka menjadi satu keluarga dari 5 Terkaya Indonesia. Posisi yang kemudian selama puluhan tahun hingga kini tetap bertahan. Dan selalu menjadi berita media massa mainstream maupun media sosial.

“Papanya Fung meninggal dunia karena sakit,” Ang menulis pesan. Kubayangkan Ang—yang memilih nyaman di kampung dan meneruskan toko ayahnya

—mungkin masih memendam hasrat masa bocah SD. “Sekeluarga Fung datang ke kampung dengan jet pribadi membawa abu jasad mendiang.” Begitulah Ang menutup pesannya.

Belakangan Fung sendiri mengirimiku kabar, abu jasad papanya (di masa lalu biasa kusapa ‘Om Restoran’ itu) telah ditabur oleh anak cucu di tengah perairan teluk tepi barat kota ini . “Itu pesan Papaku ketika sakit. Abunya harus ditabur di teluk di kampung halaman,” tulisnya.

Pesan dari Fung tadi, sungguh kuingat dengan pasti, ketika itu tak urung telah memaksaku membacanya berulang-ulang. Teringat lagi olehku bocah temen-temen TK dan orangtua mereka yang tak pernah kembali setelah karnaval truk berkelambu melambai itu. Lalu kuketik jawaban untuk Fung. “Pada zaman ini, kita tidak tahu pentingnya seseorang masih memiliki kampung halaman. Tapi, Papamu ada benarnya. Mau di mana lagi kampung halaman kita—tanah tempat pulang, tempat kita merasa berakar dan bertaut dengan puak maupun leluhur, sedangkan luka dan gembira masa silam kita, juga kakek nenek kita lahir, hidup, mati dan dikuburkan di sana.”

Memiliki tempat untuk kembali, tanah terakhir yang dikehendaki—sebelum akhir……………

Hasrat dan kerinduan Om Ima yang tak pernah sanggup ia raih hingga kemarin, ketika virus maut itu merenggutnya. Misa Requim pun urung mengiringi perjalanan terakhirnya.●

#Bima – LabuanBajo, Medio 2020

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *