by

Rusdianto, Babak Baru Lobster NTB

-Uncategorized-102 views

Redaksi7.com-Opini-Berdasarkan siaran release dari investigasi mongabay (2018) bahwa: secara geografis, Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok tempat terjadinya upwelling, pergerakan arus laut dari dingin ke hangat sehingga lobster senang tinggal di daerah ini. Apalagi, kondisi pantainya cenderung berkarang sehingga menjadi tempat cocok bagi benih lobster. Karena berkah posisi dan kondisi geografis itu, banyak nelayan di pesisir selatan pulau Sumbawa beralih ke penangkapan dan budi daya lobster dari sebelumnya menangkap ikan di lautan lepas. Tahun 2017 jumlah nelayan penangkap bibit lobster di Lombok mencapai kira-kira 10 ribu dari sekitar 62 ribu jumlah nelayan di NTB.

Nelayan tidak lagi perlu melaut sampai 10 jam untuk mendapatkan hasil. Mereka cukup memasang pocong di keramba, kembali istirahat di rumah, lalu sesekali mengecek pada malam hari. Lokasi keramba juga dekat, hanya 100-300 meter dari rumah. Perubahan cara tangkap itu berdampak pula pada pendapatan. Harga lobster melejit tinggi seiring banyaknya permintaan, terutama ekspor ke Vietnam dan Singapura.

Maka, sektor Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat, memasuki babak baru. Para investor dalam maupun luar negeri sedang berhitung. NTB menjadi destinasi olah pikir alam pikiran para pemburu keuntungan dari bisnis tata niaga Lobster dan Benih Lobster. Yang paling ngehitz Pulau Sumbawa sala satu daya tarik keypad kalkulator pebisnis untuk menghitung hasil penjualan dari pasar domestik dan internasional. NTB Primadona Lobster.

Riset Berbagai hasil kajian termasuk hasil studi kolaborasi KKP dalam hal ini Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) terpublikasi dalam buku berjudul: “Ekonomi Lobster 2019” yang meriset pada 2016 – 2019 lalu, menyebutkan, diperkirakan ada ratusan juta benih lobster pertahun diarea hotspot tersebut. Stok induk lobster capai jutaan dan sumberdaya benih bening lobster (Puerulus) capai 700 juta. Hasil riset merupakan babak baru rencana pemanfaatan jutaan induk lobster dan ratusan juta benih lobster.

Menurut Priyambodo dan Sarifin (2009) penangkapan lobster ukuran kecil (bibit) bahkan kemudian menjadi segmen bisnis tersendiri di dalam rantai industri, setelah keberhasilan beberapa petani dalam melakukan pembesaran sampai dalam ukuran yang laku di pasar. Nilai ekspor yang rendah, dan restocking maka pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 1/2015 (Permen-KP No.1/2015) tentang larangan penangkapan dan penjualan lobster (Panulirus sp.) dalam kondisi bertelur dan panjang karapas < 8 cm dengan berat minimal 200 gram.

Pada tahun 2016 berat minimal menjadi 300 gram berdasarkan Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan N0 18/MEN-KP/I/2015. Permen No.1/2015 tersebut justru dinilai kontra produktif dengan upaya pengembangan budidaya
pembesaran lobster. Ketersediaan bibit untuk usaha budidaya secara legal menjadi sulit untuk didapatkan.

Pemerintah Provinsi NTB harus serius optimalisasi pemanfaatan pontensi lobster di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok. Salah satunya melalui upaya pembesaran benih lobster guna memaksimalkan nilai tambah pendapatan masyarakat pesisir khususnya di lokasi yang menjadi sentra stok penghasil benih lobster dari alam.

Pemerintah daerah Provinsi NTB juga mendorong terciptanya pusat budidaya Lobster di Pulau Sumbawa, bukan hanya Pulau Lombok. Karena stok benih Lobster di Pulau Sumbawa jauh lebih banyak dibanding Pulau Lombok. Hasil riset ACIAR menunjukkan prediksinya bahwa tahun 2020 hingga seterusnya Pulau Sumbawa merupakan daerah penghasil lobster sepanjang perairan Labuhan Lalar, Labangka, Lamenta Selatan, Jotang Selatan (Tero, Brang Batir, Brang Tiram), Desa Mata Selatan (dusun Toloi, Dusun Penubu, Dusun Maci, Dusun Ncuni), Hu’u Dompu, Selat Lambu Sape Bima, Labuhan Bajo Koangko Dompu, Pantai Pink, Selatan Wera Bima, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Semuanya kelimpahan stok Lobster capai 500-an juta. Hanya Pulau Lombok berkisar 200-an juta benih Lobster.

Memang, dalam perjalanan budidaya, masyarakat Telong Elong hingga Dusun Gilire lebih dulu melakukan pembesaran benih lobster secara konvensional sejak 2007 silam. Sementara di Teluk Ekas, telah berhasil dilakukan pembesaran dengan teknologi yang lebih modern seperti yang dilakukan Vietnam. Usaha pembesaran lobster ini mampu memberikan nilai tambah pendapatan bagi masyarakat pesisir.

Namun, riset ACIAR menyebutkan perairan selatan Pulau Sumbawa merupakan salah satu hotspot kelimpahan benih lobster yang luar biasa di samping perairan selatan Jawa dan barat Sumatera. Sementara hotspot ini terjadi sink population, dimana populasi benih lobster tiba-tiba lenyap pada fase peurelus, dengan kelangsungan hidup (SR) hanya 0,01% (1 ekor yang hidup sampai dewasa dari 10.000 ekor benih).

Pemerintah Provinsi NTB perlu menyiapkan jenis pakan baru untuk meningkatkan pertumbuhan lobster dan mempersingkat waktu pemeliharaan sehingga bisa lebih cepat dipasarkan. Selama ini benih lobster masih menggunakan bibit alam, karena belum bisa diproduksi di laboratorium. Maka, perlu ada percontohan budidaya lobster di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok yang memanfaatkan pakan buatan dari masyarakat.

Dengan demikian, pemerintah Provinsi NTB harus memperhatikan juga aspek lingkungan, ekonomi dan sosio-kultural. Kebijakan yang dibuat harus berbasis pada problem solving, kajian ilmiah dan peran partisipasi publik, sehingga arahnya jelas yakni keberpihakan pada masyarakat dan pelestarian sumber daya lobster.

Kebijakan pada poros pengembangan budidaya untuk memberikan manfaat ekonomi dan buffer stock melalui pengaturan kewajiban restocking pada fase tertentu. Sehingga roadmap pengembangan industri lobster yang telah tersusun yang melibatkan seluruh stakeholders terkait dapat terlaksana secara baik.

Selain itu pula, kajian stok, pengaturan area tangkap lestari, pemetaan ruang untuk budidaya, penyiapan teknologi, investasi, dan strategi pengembangan budidaya (akuakultur) jika dikelola dengan bijaksana dapat menghasilkan nilai tambah, pekerjakan banyak orang, sejahterakan masyarakat dan menambah devisa negara. Karena, akuakultur juga berperan pada peningkatan pangan berprotein tinggi bagi masyarakat untuk mengentaskan persoalan kekurangan gizi stunting.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah Provinsi NTB mengajak peneliti, perekayasa, dan akuakulturist untuk terus berinovasi dalam menciptakan keberhasilan pembenihan (breeding) lobster dan membuat indukan unggul, sehingga ke depan budidaya lobster tidak lagi mengandalkan induk matang telur dari alam namun menggunakan indukan lobster dari hasil breeding yang terprogram. Terciptanya iklim usaha akuakultur yang kondusif bisa terwujud. Strategi dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan stakeholder dapat menunjang keberhasilan program pemerintah kedepannya.

Tujuannya agar pengembangan budidaya berjalan lancar dengan tetap menjamin kelestarian stok di alam. Pemanfaatan benih lobster untuk kegiatan budidaya jelas harus didorong. Jika Vietnam mampu membangun pembesarannya, Indonesia harus lebih mampu dan menguasai pasar lobster konsumsi dunia yang nilai ekonominya sangat besar.

Apalagi, KKP (Menteri dan Para Penasehatnya) dalam minggu ini telah menandatangani Nota kerja sama dengan ACIAR dan Universitas Tasmania yang telah berhasil membenihan dan membudidayakan lobster secara berkelanjutan dan tidak merusak plasma nutfah lobster alam sehingga bisa menguntungkan stakeholder.

Memang infrastruktur budidaya Lobster di Pulau Lombok sala satu acuan bagi pengembangan kedepannya, namun daerah terbanyak sebaran benih bening lobster berada di Pulau Sumbawa. Maka, tentu Pulau Sumbawa juga harus dibangun sentra bududaya yang bagus sebagai salah satu daerah penyedia sink population (pusat stok benih) lobster yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Namun demikian, produktivitas budidaya pembesaran lobster di Pulau Lombok masih rendah karena faktor manajemen sehingga diperlukan upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi teknis untuk pengembangan budidaya pembesaran lobster yang berkelanjutan.

Berdasarkan data primer yang diperoleh beberapa hari lalu, melalui survei terhadap 4 keramba pembudidaya lobster di Lombok Timur, Lombok Tengah dan Lombok Barat, bahwa rata-rata pembudidaya secara teknis bernilai rata-rata tingkat efisiensinya sebesar 0,91. Input produksi yang memiliki pengaruh signifikan adalah jumlah bibit, pakan dan lama waktu budidaya. Faktor yang memengaruhi inefisiensi teknis adalah umur pembudidaya, pengalaman, pendidikan dan persepsi pembudidaya terhadap keberlanjutan usaha pembesaran lobster.

Dalam penelitian Ervin Nora Susanti, dkk berjudul: “efisiensi teknis usaha pembesaran lobster di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)” dimuat pada Indonesian Journal of Business and Entrepreneurship, Vol. 3 No. 2, May 2017, bahwa: salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan potensial untuk dikembangkan di Indonesia adalah lobster. Sektor Kelautan dan Perikanan (KP) Provinsi NTB salah satu sektor penggerak ekonomi dengan memberikan kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara, Pulau Sumbawa, perairan laut teluk saleh yang sangat luas dan baru dimanfaatkan sekitar 0,01 porsen untuk budidaya perikanan laut serta spesies bibit lobster yang banyak terdapat di sekitar Perairan Selatan. Pulau Sumbawa bisa menjadi sala satu komoditas ekspor. Dengan peningkatan ekspor tersebut berarti permintaan lobster di pasaran dunia cukup tinggi. Dekan demikian, peluang ekspor komoditas lobster masih menjanjikan dari aspek budidaya.

Namun, yang perlu dipahami perbedaan Lobster Tropis dan Subtropis sangat berbeda. Iklim di Indonesia memiliki 3 macam iklim yaitu iklim musim (iklim muson), iklim tropika (iklim panas), dan iklim laut. Namun di indonesia lebih dikenal dengan iklim tropis yang bisa disebut biasanya dengan sebutan iklim panas, termasuk Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok dikenal iklim sangat panas, hujan sedikit, cuaca dingin hampir tak ada. Persoalan iklim ini, mempengaruhi pola pembesaran Lobster. Indonesia sangat jarang ada lobster ukuran besar, kecuali ada teknolologi pembesaran yang luar biasa dibuat dalam negeri maupun luar negeri.

Menurut Priyambodo dan Sarifin, 2009: Hung dan Tuan, 2009 bahwa: wilayah perairan laut yang ada di Pulau Lombok sangat potensial untuk pengembangan budidaya pembesaran lobster. Namun, usaha budidaya pembesaran lobster di Pulau Lombok masih tertinggal jika dibandingkan dengan usaha budidaya pembesaran lobster di Vietnam. Produktivitas usaha pembesaran lobster dalam Karamba Jaring Apung (KJA) yang rata-rata berukuran 3 x 3 meter diperkirakan adalah sebesar 50 kg per karamba lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas usaha pembesaran lobster di Vietnam yang mencapai 57,7 kg per karamba. Terdapat beragam tingkat survival pada usaha pembesaran lobster di Pulau Lombok, yaitu antara 50 sampai dengan 90%.

Hasil riset Priyambodo dan Sarifin, 2009 juga menjelaskan tingkat survival di Vietnam, dengan husbandry dan nutrisi yang bagus secara konsisten di atas 90%. Padahal lobster produksi Vietnam bibitnya banyak berasal dari Indonesia. Sementara data DKP Provinsi NTB tahun 2015 bahwa NTB salah satu eksportir bibit lobster yang besar di dunia, dimana pengiriman bibit lobster bisa mencapai 28.800 ekor per hari dan 2019 – 2020 sejumlah 70 jutaan benih.

Besarnya permintaan ekspor bibit lobster ini turut memengaruhi kegiatan budidaya pembesaran lobster di Pulau Lombok, banyak petani yang beralih menangkap bibit dan meninggalkan usaha budidaya. Bibit di alam tidak bisa dimanfaatkan keberadaannya, padahal menurut hasil penelitian ACIAR, penangkapan bibit lobster di alam masih sustainable karena survival rate (SR) bibit di alam kurang dari 0,01%.

Bagi pelaku usaha lobster aturan tersebut justru dapat mematikan usaha pembesaran lobster sebagai akibat dari meningkatnya risiko produksi karena kemungkinan adanya faktor penyakit, cuaca dan iklim serta tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, peningkatan permintaan lobster dipasar dunia menjadi peluang sekaligus tantangan untuk bisa meningkatkan kontribusinya memenuhi permintaan lobster dunia.

Menurut Idiong (2007) dan Mayashinta dan Firdaus (2013) bahwa salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan produksi lobster melalui perluasan area karamba dan peningkatan produktivitas. Upaya peningkatan produktivitas dalam jangka pendek adalah melalui peningkatan efisiensi. Dalam jangka panjang peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui perubahan teknologi. Faktor produksi yang efisien akan menciptakan produksi yang optimal.

Oleh karena itu, penelitian Ervin Nora Susanti, dkk tentang efisiensi pada usaha pembesaran lobster sangat penting untuk dilakukan dalam upaya meningkatkan produktivitas lobster dengan kemampuan pembudidaya dalam mengelola kegiatan usaha pembesaran lobster. Kemampuan tersebut terkait dengan karakteristik yang melekat pada diri pembudidaya. Selain itu persepsi pembudidaya terhadap keberlanjutan usaha juga ikut menentukan bagaimana pengelolaan usaha yang dilakukan oleh pembudidaya. Kemampuan mengelola usaha budidaya secara efisien dengan penggunaan input produksi yang tepat akan menentukan produktivitas yang dicapai.[Penulis :Rusdianto Samawa]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.